RSUD Abdul Moeloek Tingkatkan Layanan HIV dengan Poli Kanca Sehati: Strategi Baru dalam Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Saat berbicara tentang HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS), Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam. Dengan target ambisius untuk mengeliminasi kedua penyakit ini pada tahun 2030, berbagai upaya mulai dari edukasi hingga deteksi dini dan pengobatan berkelanjutan telah digalakkan.
Indonesia dan Tantangan Penanggulangan HIV
Namun, perjuangan Indonesia dalam menangani HIV masih jauh dari kata selesai. Menurut data terkini, Indonesia masih berada di peringkat 14 dunia dalam jumlah orang dengan HIV dan peringkat 9 untuk infeksi baru HIV. Diperkirakan pada tahun 2025, Indonesia akan memiliki sekitar 564.000 orang dengan HIV. Sayangnya, hanya sekitar 81 persen dari jumlah tersebut yang mengetahui status HIV mereka.
Lebih tragis lagi, hanya sekitar 41 persen dari mereka yang telah menjalani terapi antiretroviral (ARV), dan hanya 19 persen yang berhasil mencapai kondisi di mana virus tidak terdeteksi dalam tubuh mereka, sehingga risiko penularan menjadi sangat rendah.
RSUD Abdul Moeloek dan Strategi Baru dalam Pelayanan HIV
Melihat tantangan ini, RSUD Dr. H. Abdul Moeloek (RSUDAM) tidak tinggal diam. Lebih dari sekedar rumah sakit, RSUDAM telah berkomitmen untuk memperkuat layanan HIV melalui pelayanan terpadu di Poli Kanca Sehati, pusat layanan HIV mereka.
Pelayanan di Poli Kanca Sehati dirancang dengan pendekatan holistik dan profesional, tanpa ada diskriminasi terhadap pasien dengan HIV. Program layanan HIV di sini mencakup Klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT) yang melayani rata-rata sekitar delapan pasien baru setiap bulan, dengan total kunjungan mencapai sekitar 400 pasien per bulan dengan berbagai tingkat kondisi kesehatan.
Kondisi Pasien dan Deteksi Dini
Sebagian besar pasien yang datang ke RSUDAM biasanya sudah berada dalam kondisi yang cukup berat. Hal ini karena pola penemuan kasus yang masih bersifat pasif, yaitu pasien datang secara mandiri atau melalui rujukan dari fasilitas kesehatan lain.
Padahal, pendeteksian dini adalah faktor kunci dalam menekan dampak penyakit ini. Kasus dengan kondisi berat idealnya hanya seharusnya mencakup 10 hingga 20 persen dari total kasus.
RSUD Abdul Moeloek Tingkatkan Komitmen dalam Penanganan HIV
Direktur RSUD Abdul Moeloek, dr. Imam Ghozali, Sp.An., KMN., M.Kes, menegaskan bahwa rumah sakitnya terus berupaya meningkatkan layanan agar penanganan HIV dapat dilakukan secara lebih komprehensif.
RSUDAM telah berkomitmen untuk menyediakan layanan kesehatan yang inklusif dan bermartabat bagi semua pasien, termasuk mereka yang hidup dengan HIV. Melalui penguatan layanan di Poli Kanca Sehati dan berbagai inovasi lainnya, tujuan RSUDAM adalah untuk memastikan pasien mendapatkan akses layanan yang optimal tanpa stigma atau diskriminasi.
Pelayanan Terpadu dalam Penanganan HIV
Dr. Yusuf Aulia Rahman, Sp.PD., KPTI, dokter yang bertanggung jawab atas layanan HIV RSUDAM, menjelaskan bahwa penanganan HIV di rumah sakit dilakukan secara terpadu melalui layanan VCT dan pengobatan antiretroviral.
Menurutnya, Klinik VCT RSUDAM saat ini melayani rata-rata sekitar delapan pasien baru setiap bulan dengan total kunjungan mencapai sekitar 400 pasien per bulan. Namun, sebagian besar pasien yang datang sudah dalam kondisi yang cukup berat karena pola penemuan kasus masih bersifat pasif. Oleh karena itu, pentingnya deteksi dini tidak bisa diabaikan.
Poli Kanca Sehati: Pusat Layanan HIV di RSUD Abdul Moeloek
Di RSUDAM, Poli Kanca Sehati menjadi pusat layanan HIV. Pasien dapat menggunakan BPJS Kesehatan atau program nasional HIV dari Kementerian Kesehatan. Pasien dengan keluhan ringan dapat memperoleh layanan melalui skema BPJS, sementara obat antiretroviral disediakan melalui program nasional HIV.
Seluruh unit pelayanan di klinik rawat jalan maupun rawat inap RSUDAM juga dapat menangani pasien HIV tanpa diskriminasi. Namun, pengambilan obat ARV tetap dipusatkan di Poli Kanca Sehati.
RSUD Abdul Moeloek: Pengampu Layanan HIV di Provinsi Lampung
Selain layanan medis, Poli Kanca Sehati juga menjadi pengampu layanan HIV di Provinsi Lampung. RSUDAM secara rutin menyelenggarakan pelatihan dan program magang bagi tenaga kesehatan dari berbagai fasilitas kesehatan. Ini merupakan bagian dari upaya Direktorat Pengembangan SDM RSUDAM dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan.
RSUDAM juga bekerja sama dengan jaringan ODHA Berdaya yang mengelola rumah singgah bagi pasien HIV. Ini menjadi bentuk dukungan sosial bagi pasien.
Inovasi Layanan di RSUD Abdul Moeloek
RSUDAM juga tengah mengembangkan berbagai inovasi layanan di bawah Poli Kanca Sehati. Beberapa di antaranya meliputi pengembangan layanan akhir pekan dan layanan di luar jam kerja, penguatan layanan vaksinasi terkait penyakit yang sering berkaitan dengan HIV seperti vaksin HPV dan cacar, serta pengembangan program pelatihan HIV terstandar.
Program pelatihan ini telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan dirancang untuk melatih tenaga kesehatan agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang standar bagi penderita HIV di seluruh 15 kabupaten kota Provinsi Lampung.
RSUD Abdul Moeloek dengan berbagai upaya tersebut berkomitmen untuk menyediakan layanan HIV yang komprehensif, inklusif, dan berkelanjutan. Rumah sakit ini memastikan setiap pasien mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermartabat dan tanpa stigma.
➡️ Baca Juga: Final Proliga 2025: Pertahankan Gelar, Bhayangkara Presisi Angkat Tropi Juara Usai Kalahkan LavAni
➡️ Baca Juga: Pendidikan Karakter 2025: Persiapan untuk Masa Depan