Keluarga Tersangka Pencurian Sepatu Minta Penadah ZL dan PS Diproses Hukum Segera

Keluarga dari salah satu tersangka dalam kasus pencurian sepatu yang terjadi di PT. Nikomas Gemilang pada Januari 2026 menyatakan ketidakpuasan mereka terhadap proses hukum yang berjalan. Mereka merasa ada ketidakadilan dalam penanganan kasus ini, terutama terkait dengan para penadah barang curian yang belum diproses. Ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai keadilan dalam sistem hukum yang ada.
Ketidakpuasan Keluarga Tersangka
Anggota keluarga tersangka merasa bahwa pihak berwenang seharusnya juga menindaklanjuti tindakan ZL dan PS, yang diduga sebagai penadah barang hasil pencurian. Mereka mempertanyakan mengapa kedua individu tersebut belum menerima proses hukum sementara mereka memiliki peran penting dalam rantai pencurian ini.
Pernyataan ZL di Kantor Polisi
Menurut informasi yang didapat, ZL pernah datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan mengenai keterlibatannya. Dalam kesaksiannya, ZL mengakui bahwa dirinya telah membeli sepatu yang diketahui merupakan hasil pencurian. Hal ini diperkuat oleh keterangan dari HS, salah satu tersangka yang mengaku menjual sepatu-sepatu tersebut kepada ZL.
“ZL mengakui bahwa ia membeli sepatu curian tersebut dan kemudian menjualnya kembali kepada PS yang merupakan pemilik Toko Jogja,” ungkap sumber dari keluarga tersangka saat dihubungi melalui telepon.
Pernyataan Kontroversial dari ZL
Lebih lanjut, ZL juga menyampaikan pernyataan yang membuat keluarga tersangka merasa sangat tersakiti. Ia menyebutkan bahwa untuk bisa ‘bermain’ dalam bisnis sepatu, seseorang harus memiliki cukup uang untuk membayar petugas kepolisian. Ini menunjukkan sisi gelap dari praktik bisnis yang melibatkan pencurian.
“Saya merasa sangat sakit hati mendengar ucapan ZL. Dia mengatakan bahwa jika ingin terlibat dalam bisnis sepatu, harus memiliki uang agar tidak terjerat masalah hukum,” imbuh sumber tersebut dengan nada penuh kekecewaan.
Proses Hukum terhadap PS
Ketika ditanyakan mengenai PS, sumber tersebut menjelaskan bahwa PS tidak pernah muncul di kantor polisi. Sebaliknya, PS hanya dihubungi melalui telepon. Dalam situasi ini, pihak kepolisian menyatakan bahwa jika PS tidak bersikap kooperatif, mereka akan melakukan penjemputan paksa.
“PS memang tidak datang ke Polsek, namun barang bukti yang ada di tokonya telah diserahkan kepada pihak berwajib,” jelasnya, menambahkan bahwa ada sejumlah barang bukti yang mengaitkan PS dengan pencurian ini.
Kronologi Kasus Pencurian Sepatu
Mengenai kronologi pencurian, disebutkan bahwa HS, TH, dan ES masing-masing mendapatkan imbalan sebesar 500 ribu untuk setiap pasang sepatu yang mereka jual, dan jumlah tersebut dibagi empat dengan MN yang kini masih dalam pencarian.
- HS menjual sepatu ke ZL seharga 500 ribu per pasang.
- ZL kemudian menjual ke PS dengan harga 900 ribu hingga 1 juta per pasang.
- Harga yang diposting di toko PS berkisar antara 1,3 juta hingga 1,5 juta per pasang.
- Penadah mendapatkan keuntungan besar, sementara yang menjual tidak mendapat perlindungan hukum yang memadai.
- Keuntungan dari penjualan sepatu curian sangat tidak proporsional dibandingkan dengan hukuman yang diterima para pelaku utama.
Sumber tersebut juga menambahkan bahwa HS telah mulai menjual sepatu curian kepada ZL sejak bulan Juli 2025, dengan rata-rata penjualan mencapai 50 hingga 60 pasang sepatu setiap minggu. Dengan demikian, total sepatu curian yang berhasil dijual kepada penadah dapat mencapai hingga 200 pasang dalam sebulan.
Penghitungan Total Penjualan Sepatu Curian
Jika dihitung sejak Juli 2025 hingga Januari 2026, jumlah total sepatu curian yang dijual kepada ZL dan PS bisa mencapai ribuan pasang. Angka ini menunjukkan betapa meluasnya praktik pencurian yang terjadi, serta bagaimana rantai pasokan barang curian ini beroperasi di tengah masyarakat.
“Dengan asumsi penjualan mingguan yang stabil, jika dihitung dari Juli 2025 hingga Januari 2026, kemungkinan besar ribuan sepatu telah dijual ke ZL dan PS,” tutup sumber tersebut dengan nada penuh keprihatinan.
➡️ Baca Juga: Dandim 0623/Cilegon Evaluasi Pipanisasi Air Sawah untuk Atasi Krisis 25 Tahun Petani
➡️ Baca Juga: Pola Makan Sehat 2025: Tren Gaya Hidup Terbaru




